Rabu, 15 April 2009

PENDIDIKAN YANG MENYENANGKAN

MENDIDIK DENGAN CINTA...

Menjadi seorang pendidik adalah hal yang menarik dalam hidup saya. Apalagi di dunia anak yang penuh dengan keriangan. Memang mata pelajarannya tidaklah sesulit tingkatan di atasnya mulai SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Namun menghadapi mereka membutuhkan kreatifitasan kesabaran yang sangat luar biasa.

Menghadapi Adil yang sangat cerdas tetapi sangat besar keingintahuannya memang membuat saya hampir kehilangan akal. Adil adalah salah seorang murid saya ketika saya menjadi kepala sekolah di taman kanak-kanak International Islamic School di Kota Medan. Sebenarnya dia sudah pernah belajar di TK lain, tetapi karena lokasi sekolah yang lama lebih jauh, akhirnya orangtuanya memasukkan Adil ke sekolah Internasional ini.

Adil selalu bertanya hal-hal yang memang menurut dia belum jelas, sampai dia benar-benar mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya barulah ia akan berhenti. Tetapi kelemahannya adalah malas menulis. Hal inilah yang membuat dia merasa sangat bosan ketika waktunya menulis, dia hanya mampu bertahan 1 menit untuk menulis. Dia selalu bilang,
“ummi, kenapa kita harus menulis?”
“untuk menunjukkan apa yang kita fikirkan dan melatih tangan kita agar bergerak baik” jawab saya
“iya, tapi kenapa harus menulis? Kan kita bisa berbicara saja” jawabnya membela dirinya.
Begitulah Adil yang selalu ingin tahu dan berusaha memberikan argumen yang menurutnya benar. Memang saya tidak pernah memaksanya untuk menyelesaikan tulisannya, saya hanya membuat standart minimal tulisan untuknya. Bahkan terkadang sepanjang temen-teman lainnya menulis, dia saya tempatkan dekat dengan saya, sehingga saya lebih mudah memotifasinya sambil terus dia bertanya dan sayapun senantiasa memberikan jawaban yang rasional.

Hingga pada suatu hari, Adil datang terlambat dengan wajahnya yang sangat ketat dan kusut, dan mamanya bilang hari itu dia memang sangat terlambat bangun karena malamnya baru pulang dari rumah family mereka.
Sayapun menerima Adil sambil bertanya tentang kegiatan dia sebelum berangkat ke sekolah dan mengingatkannya berdoa dulu, sebab dia hadir pada saat teman-teman lainnya sudah selesai membaca doa pembuka.
Menit-menit pertama dia masih mengikuti pelajaran dengan baik sampai pada akhirnya ketika saatnya menulis, dia bahkan sama sekali tidak mau mengambil peralatan menulisnya. Dia berpindah mengganggu teman satu ke teman yang lain. Awalnya saya hanya mengingatkan dengan cara memanggil namanya berulang kali dan memintanya untuk duduk di bangkunya dan mulai menulis. tetapi dia terus bergerak mengganggu temannya, sayapun mulai agak menaikkan suara memanggilnya “Adil...”. dia langsung berhenti dan duduk, tetapi belum juga mulai menulis. saya fikir untuk membiarkannya dulu sambil saya ingin tahu apakah dia mau menulis. Namun dia tetap duduk sambil memainkan kotak pinsilnya.
Akhirnya saya mulai memberikan sedikit pengumuman, sebenarnya khusus untuk Adil, tetapi saya menyampaikannya secara klasikal pada murid-murid yang lain.
“Anak ummi semuanya, 5 menit lagi kita akan makan ya, nah, semua anak ummi boleh makan tetapi ada syaratnya, yang boleh makan adalah anak ummi yang sudah selesai tugas menulisnya.” seorang murid ada yang langsung nanya
“Ummi, kalo gak siap nulis kayak Adil boleh makan juga mi?”. “
“Tentu yang boleh makan hanya anak yang sudah selesai menulis, tidak hanya Adil, murid yang lain pun kalo belum selesai menulis, makannya ditunda dulu sampai dia selesai menulis” jawabku
“Asyik...”, kata murid-murid yang lain.

Saya tidak memperdulikan Adil, tetapi saya melihat apa yang reaksinya terhadap pengumuman saya tadi. Ternyata dia masih belum bergerak juga. Saya memutuskan untuk berhenti menegurnya.
Sampai waktu makan tiba, murid-murid saya mulai mengambil makanannya dan duduk di meja makan, ternyata adil ikut duduk di meja makan. Saya kembali membuat pengumuman
“Anak ummi semua, yang boleh duduk di kursi makan ini hanya anak ummi yang sudah selesai menulis ya...”
“Ummi, adil belum siap nulis, tapi dia duduk disini mi..” murid-murid lain mulai melapor. Walaupun sebenarnya saya sudah mengetahuinya.
Adil langsung berdiri sambil menunjukkan wajahnya yang kesal dan bergerak keluar dari meja makan, tetapi, olalala, tangannya menyenggol botol susu teman sebelahnya dan tumpah membasahi meja makan. Semua murid terdiam dan melihat kea rah saya. Sayapun sadar murid-murid saya menunggu apa yang akan saya lakukan, saya terdiam sesaat sambil menahan marah yang hampir meledak, saya pejamkan mata dan menarik nafas saya berfikir apa yang harus saya lakukan untuk Adil.

Adil hanya berdiri tegang seperti patung, tampak wajahnya langsung tegang dan pucat. Saya berfikir bagaimana caranya saya marah tetapi dapat membuat Adil memperbaiki sikapnya,
Tiba-tiba dia bersuara dengan sangat memelas “ummi, Adil gak sengaja”. Sayapun tahu kalau dia memang tidak sengaja. Saya harus bisa membedakan mana masalah saya dan mana masalah dia. Akhirnya saya membuat pengumuman lagi,
“Anak ummi, siapa yang bisa bantu Adil membereskan meja makan kita ya?
“saya mi..saya mi..devi mi..” anak anak berlomba menjawab dan menawarkan bantuan. Begitulah anak-anak, mereka terlihat tulus dalam bertindak.
Saya memberikan beberapa lap pada murid-murid walaupun saya tahu kalau mereka yang membersihkan bukan malah bersih tapi hanya menyebarkan susu semakin melebar di meja dan mengotori lantai. Saya sengaja membiarkan mereka berbuat dulu, sambil saya memberi contoh. Dan pada akhirnya guru bantu yang akan membersihkannya lagi. Saya hanya ingin melatih anak-anak agar mau berbuat dan bekerja dalam team dan bersikap mau menolong sesama.


Sementara Adil hanya berdiri menyaksikan teman-temannya membersihkan meja makan dan saya tidak menegurnya sama sekali. Tiba-tiba dia mendekati saya, namun saya tidak melihat ke arahnya, saya hanya ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Ternyata dia mulai bersuara dengan isakan
“Ummi, maafkan Adil ya. Adil gak sengaja” dia berkata dengan tersedu-sedu sambil mengeluarkan air mata. Saya masih saja diam, sambil mencari idea pa yang harus saya lakukan.
“Ummi....” tangisannya mulai keras, dia memanggil saya sambil meraih tangan saya. Ya Allah, hati saya mulai luluh olehnya. Tapi saya masih tidak memperdulikannya dan sibuk dengan murid-murid yang sedang membersihkan meja.
“Iya, ummi tahu Adil gak sengaja kok. Sekarang bantulah teman-teman adil membersihkan meja makan kita ya..” saya akhirnya menemukan kalimat itu.
“Iya ummi, tapi ummi gak marah kan?” dia bertanya untuk memastikan bahwa saya tidak marah atas apa yang dilakukannya. Saya berfikir lagi jawaban apa yang tepat untuk pertanyaannya. Karena sebenarnya saya memang marah, tetapi saya ingin kemarahan saya ini berdampak baik untuk adil dan murid-murid yang lain.
“Hmmm,kalau orang yang tidak sengaja melakukan apapun, maka dia tidak bersalah dan tidak perlu diberi hukuman”
“Tetapi bila akibat perbuatannya itu bisa merugikan orang lain, harusnya dia minta maaf pada yang lain, sekarang Adil minta maaf sama teman-teman ya..”
“Iya ummi, teman-teman... saya minta maaf ya..” akhirnya saya melihat Adil pertama sekali menangis sambil mengakui kesalahannya.
“Ummi, Adil boleh ikut makan dengan teman-teman kan?” dia bertanya status dirinya.
“Hmm, boleh. Tetapi peraturannya ummi sudah kasitau Adil kan? Yang boleh makan hanya murid yang sudah selesai menulis” saya tetap dengan peraturan saya sebelumnya.
“Iya ummi, adil mau nulis dulu ya...” dia langsung mengambil peralatan menulis dan menyelesaikan dengan cepat . saya juga heran ternyata dia bisa menulis dengan rapi dan cepat. Akhirnya Saya menemani adil makan, karena murid-murid lain sudah istirahat.

Pengalaman hari itu saya anggap seperti menguji kesabaran saya untuk kesekian kalinya menghadapi murid-murid yang penuh dengan keanekaragaman tingkah. Tetapi paling tidak Adil mendapatkan haknya untuk bicara tentang apa yang difikirkannya. Dan saya mendapatkan kepercayaan darinya untuk menampung segala cerita lucu sampai pertanyaan yang sepatutnya ditanyakan di bangku perguruan tinggi.

Dan yang paling membuat saya gembira adalah ketika mama Adil mengantar Adil keesokan paginya, dia langsung menemui saya. Mama Adil bercerita bahwa Adil benar-benar senang dengan saya, sepanjang pulang kemarin sampai malam ketika papanya pulang, Adil terus menceritakan pengalaman di kelasnya yang luar biasa. Adil merasakan bahwa kenakalannya biasanya hanya mendapatkan kemarahan dari orang-orang di sekitarnya. Tetapi kemarin dia menemukan keyakinan bahwa dia bisa berubah. Dan memang sejak itu Adil selalu rajin menulis dengan cepat, dan saya tetap harus menyediakan kegiatan tambahan buatnya, karena selalu lebih cepat menyelesaikan tugasnya dibanding murid lainnya.

Mengendalikan marah memang tidak mudah, tetapi tidak salah kalau anda mencoba tips berikut:


1. Menjadi pendengar yang baik. Ini perlu anda lakukan untuk memastikan informasi yang cukup tentang apa yang sebenarnya dan difikirkan orang lain. Akibat kita tidak mengetahui dengan baik apa yang mereka rasakan, maka kita bisa salah memberi respon.


2. Konsisten terhadap aturan yang sudah dibuat. Peraturan memang untuk mengontrol dan menertibkan. Walaupun akhirnya peraturan tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi tertentu, namun usahakan sedapat mungkin menjalankan peraturan tersebut.


3. Bersikap adil. Walau bagaimanapun kondisi anda, coblah bersikap adil. Jangan sampai orang lain bahkan diri anda tidak mendapatkan haknya.

4. Kenali dulu , masalah siapa. Anda jangan langsung marah pada orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang sesuatu yang anda marahkan. Atau kesalahan mana yang mereka buat, jangan-jangan anda marah sekarang terhadap kesalahan yang dilakukannya pada 2 tahun yang lalu.


5. Tegas. Kalau ternyata itu adalah kesalahan oranglain, anda boleh bersikap tegas, tetapi bukan berarti anda menumpahkan semua kesalahannya. Nyatakan bahwa anda marah padanya karena kesalahannya itu.

6. Berani mengakui salah. Kalau ternyata kesalahan yang sebenarnya adalah diri anda sendiri yang membuatnya, sebaiknya akuilah dan segera minta maaf.

Semoga tips di atas dapat bermanfaat, terutama para pendidik.

newday,